Zionisme secara politik bangkit di Paris, diotaki Theodore Herzl, 1896, ia membentuk World Zionist Organization dengan kongres pertama di Basel, Swiss, Agustus 1897. Tahun berikutnya ia dirikan lembaga yang berfokus merebut tanah Palestina (1898) dan pusat dananya–Jewish National Fund, 1901.

Dalam Ensiklopdia Amerikana, istilah Zionisme sebagai ideologi persemakmuran Yahudi sedunia dideklarasikan oleh Nathan Birnbaum pada 1893, seorang pengarang yang bermukim di Austria. Zion sendiri nama bukit di barat daya Jerusalem, yang pada tahun 583 sebelum Masehi dijadikan patokan para imigran Yahudi di Babylonia (Bagdad sekarang) untuk kembali ke negeri leluhur! Sepanjang enam abad mereka bermukim di sekitar Zion, hingga pasukan Romawi mengusir mereka tahun 70 Masehi. Sepanjang 18 abad sejak itu tidak ada lagi permukiman Yahudi yang relatif berarti di Palestina.

Satu dekade sebelum Birnbaum, 1882, gerakan Hoveve Zion–pencinta Zion–bangkit di kalangan imigran Yahudi Rusia dan Rumania. Mereka bangun sejumlah komunitas pertanian di Palestina.  Gerakan ini sejak 1890 dapat dukungan dana dari jutawan Yahudi Prancis, Baron Edmond de Rothschild.

Sejak kebangkitan tadi, selain gelombang migrasi besar-besaran kaum Zionis ke Palestina, secara politik dan ekonomi pengaruh Zionis besar di Eropa. Di tengah Perang Dunia I, Chaim Weizmann, tokoh Zionis (yang jadi presiden pertama Israel), pada 1917 berhasil menekan Pemerintah Inggris untuk mengumumkan Deklarasi Balfour, di mana Inggris siap memfasilitasi pembangunan negeri Yahudi di Palestina. Deklarasi ini didukung Prancis, Italia, dan negara-negara Eropa lain, dengan Zionis Amerika mendapatkan dukungan Presiden Woodrow Wilson! Usai PD I, Deklarasi Balfour dilaksanakan.

*Dinukil dari LampungPost.com