Kalo seorang Sarjana Pertanian ditanya “Apakah Anda tahu pupuk organik? Apa fungsinya?”.  Dengan mudah dia bisa menjawab, “tahu, fungsinya banyak” (minimal dia bilang, menyuburkan tanah).  Bener banget sih kalo dia bilang gitu (kalo gak bisa jawab, tapeeeeee deech….).  

Gimana kalo kita bilang fungsi pupuk organik adalah: (1) Meningkatkan ketersediaan hara dan senyawa organik; (2) Menyuburkan tanah; (3)  Meningkatkan aktivitas mikroorganisme/ jasad renik dalam tanah; (4) Menekan pertumbuhan pathogen/ hama penyakit; (5) Mengendalikan serangan nematode parasit; (6) Meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman; dan (7) Meningkatkan mutu buah lebih baik dan lebih sehat.  Setuju gak? Kalo gak setuju ya monggo, kalo ada yg kurang mohon ditambahi, kalo salah ya maaf atuh…Lumayan kan manfaatnya, gak ada ruginya dong kalo petani mencobanya, apalagi dengan kondisi seperti sekarang, pupuk mahal dan langka di pasaran, erutama pada saat musim tanam.

Kopi, pada dasarnya adalah tanaman keras tahunan, robusta khususnya, umumnya tanaman keras tahunan membutuhkan asupan pupuk yang terus menerus untuk menunjang pertumbuhannya.  Kebayang kan kalo diberikan pupuk anorganik buatan seperti urea, KCL dan TSP.  Langsung habis setelah aplikasi, apalagi kalo urea.  Perakaran yang dangkal tanaman kopi memang menunjang untuk menyerap unsur hara yang dilepaskan oleh pupuk buatan tadi, lah kalo persediaan pupuk tadi habis??  Logikanya, disuruh makan sekali n seterusnya di suruh puasa selama beberapa hari bahkan bulan??  wahhh….ampon….. 

Salah satu sifat pupuk organik adalah pelepasan kandungan unsur hara yang perlahan/Slow Release.  Nah sepertinya kopi dan pupuk organik cocok banget ya.  Masalahnya sekarang adalah bagaimana mengenalkan “produk” ini kepada para petani kopi kita yang sebagian besar adalah petani rakyat dengan sistem pertanian yang masih tradisional.  Jika 100% tradisional seperti era-70an sih gak masalah karena memang kebun mereka diolah secara organik, alami.  Kenapa? Karena mereka blm kenal itu yang namanya pupuk urea.  Mereka hanya kenal tanah hitam yang kaya humus setelah pembukaan hutan sebagai lahan kebun.   

Tahun 80an, saat dimulainya perkenalan produk anorganik kepada petani, termasuk untuk tanaman perkebunan. Jika kita bahas disini mungkin kita bisa temukan salahnya kebijakan tersebut, tapi bukan waktunyalah.  Karena penggunaan pupuk anorganik ini merupakan program pemerintah, dengan cepat ditanggapi oleh apaat negara sampai ke desa-desa, bahkan dusun.  Hasilnya pun tak mengecewakan mereka, dalam waktu singkat peningkatan produksi terjadi.  Kegiatan berlangsung sampai sekarang, hampir semua petani Indonesia menggunakan pupuk anorganik (kira-kira 20 tahunan).  Bayangkan, salahkah jika saya bilang, petani menggunakan pupuk anorganik seperti sebuah kebiasaan? 

Belakangan ketika kesadaran konsumen terhadap kesehatan produk sangat tinggi, sepertinya semua orang ingin back to nature, terutama konsumen di negeri Eropa yang notabene adalah pasar terbesar untuk  penyerapan produk kopi, mulai didengungkan produk organik.  Di sini tantangannya.  Kita tetap ingin menjual produk kita ke luar negeri sementara petani kita telah terbuai dengan pupuk anorganik.  Walaupun petani sempat berpikir duakali untuk menggunakan pupuk anorganik, tetap saja mereka mengusahakan untuk membelinya, wajar karena mereka telah terbiasa.  Jika Anda tak percaya tanyakan dengan petani kopi di Lampung Barat. “Apa yang Bapak pikirkan untuk meningkatkan Produksi Kopi?”. Mungkin jawaban teratas adalah pupuk urea.  Ini pernah saya tanyakan langsung dengan mereka.  Begitu kentalnya mereka mengenal pupuk urea dibandingkan dengan serasah daun yang tiap hari mereka lihat berserakan di kebun, atau bahkan mereka bakar!!!

Bukan tidak ingin petani mengurangi beban pengeluarannya untuk mengelola kebun.  Mungkin mereka juga ingin menggunakan pupuk organik buatan sendiri, tapi apakah mereka memiliki pengetahuan yang cukup untuk itu? satu pertanyaan.  Mungkin mereka tahu cara  membuat pupuk organik.  Pengaruhnya bagi tanaman? Sedikit tahu.  Apakah ada jaminan pasar kopi robusta organik? Mereka tidak tahu.

Jadi, masalah utamanya sepertinya pada mengubah kebiasaan dan menyediakan pasar yang pasti untuk produk mereka.  Kesadaran mereka akan kerugian penggunaan produk anorganik dan keuntungan menggunakan produk organik mungkin bisa dijadikan faktor pendorong.  Tetapi perlu diingat, mereka akan berkalkulasi secara ekonomi.  Dan mereka memiliki pengalaman bahwa produk organik pernah mengangkat perekonomian mereka di waktu lalu.