Mengutip pernyataan Bupati Lampung Barat, Mukhlis Basri, yang di beritakan oleh ANTARA (26 Mei 2008), “Isu bahwa kopi Lampung sebagian besar berasal dari kawasan hutan konservasi itu tidak benar. Kopi yang berasal dari kawasan hutan TNBBS itu hanya sekitar 10 persen,” kata Mukhlis, di Liwa, Lampung Barat. Ini merupakan sanggahan terhadap hasil studi dan temuan yang dilakukan dari Oktober 2003 sampai Juni 2004 oleh salah satu organisasi lingkungan hidup yang mengemukakan bahwa sekitar 17% kopi yang berasal dari Lampung terkontaminasi oleh kopi yang di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Keadaan ini tidak sesederhana yang dibayangkan, terlalu kompleks untuk diperbincangkan, karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam pandanganku yang sederhana sekarang ini adalah bagimana meyakinkan publik (terutama pembeli di luar negeri) bahwa kopi yang di ekspor dari Lampung atau eksportir yang berada di Lampung, tidak terkontaminasi kopi yang berasal dari kawasan TNBBS.

Pertanyaannya adalah “bagaimana caranya?”, sangat sederhana tapi sulit dijewantahkan. Sebagai contoh sederhana, coba bayangkan, kopi berbentuk biji dengan ukuran/dimensi rerata sebesar kuku jari kelingking orang dewasa, dan dalam satu kilo dapat lebih dari 2500 –   3000 biji kopi. Lalu, bagaimana caranya membedakan antara kopi yang berasal dari TNBBS dan mana yang berasal dari tanah legal? Alat apa yang bisa membedakannya?

Masalah lainnya, jalur penjualan kopi sekarang ini bukan langsung antara petani kopi dan eksportir, tetapi melalui beberapa rantai pengumpul sebelum akhirnya sampai ditingkat eksportir.  Wahhhhhhh…..Ribet ya…..

Beberapa lembaga independen di luar negeri termasuk Indonesia menawarkan alternatif jalan keluar.  Arahnya sustainable agriculture, pertanian yang berkelanjutan/lestari, pertanian yang memikirkan masa depan untuk anak cucu kita (ini hematku lho…), karena harus kita sadari bahwa pertanian yang sekarang ada bukan hanya untuk kita nikmati sekarang tetapi juga sampai anak keturunan kita beranak-pinak. Lembaga-lembaga tersebut memberikan semacam arahan/acuan bagaimana melakukan pertanian yang berkelanjutan.  Terdapat 3 aspek umum yang menjadi fokus dalam arahan mereka, yaitu: Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan.  Acuan-acuan yang termaktub dalam buku petunjuk yang mereka berikan harus diikuti oleh perusahaan atau lembaga lain yang berkeinginan untuk melakukan pertanian yang berkelanjutan. 

Lalu apa implikasinya jika sudah mengikuti langkah-langkah yang mereka sarankan, tak lain tak bukan adalah sebuah pengakuan dalam bentuk Sertifikasi terhadap produk pertanian yang kita kelola.  Patut diingat bahwa lembaga-lembaga tersebut INDEPENDEN dan mendapatkan pengakuan dunia internasional. Hubungannya dengan TNBBS dan kemelut kopi Lampung apa? Nah, didalam ketentuan/aturan yang mereka berikan, terdapat aturan yang menjamin adanya sistem lacak-balik (traceability system), darimana dan kemana barang tersebut diperjualbelikan hingga akhirnya sampai ke konsumen. Sistem ini memberikan gambaran siapa saja pelaku distribusi barang, mulai dari produsen sampai konsumen dengan pencatatan (record) yang lengkap oleh setiap pelakunya.  Cukup sulit dan mungkin kita semua pesimis, apakah dapat melakukannya???.. Wahhh… kalo cuma bengong di sini ya udah, selesai masalahnya dan terima keadaan 5 – 10 tahun ke depan….hehhe….coba kita sedikit luangkan waktu dan menjelajah ke alamat website: http://www.biocert.or.id ; http://www.4c-coffeeassociation.org ; http://rainforest-alliance.org ; http://www.controlunion.com ; http://www.utzcertified.org

TNBBS dan segala kemelutnya mungkin masih akan menjadi bahan perbicangan hangat sampai nanti…sampai rambut kita memutih….tapi usaha kita sekarang menentukan sampai saat tersebut tiba, lestarikah TNBBS dengan harimau sumateranya? Lestarikah kebun kopi yang menghampar luas menopang ribuan perut yang menganga? Masihkah kita tetap bisa menikmati kopi dari bumi sendiri? Atau semuanya hancur tak berbekas…. GONE (INSTANT) with The WIND…..